Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Disruptive Innovation: Pengantar Minisoccer

11.22 Ecky Agassi 4 Comments Category : ,

Bismillah.

Masih tentang libur Lebaran 2016. Di liburan tahun ini saya memiliki kesempatan bersilaturahmi dengan bermain sepakbola minisoccer. Saya bersama teman-teman bermain minisoccer di lapangan Villa Delima, Lebak Bulus. Ini adalah pengalaman pertama saya bermain minisoccer, karena minisoccer termasuk “genre” sepakbola baru di Indonesia.

Apa sih minisoccer itu?

Minisoccer adalah olahraga sepakbola dengan lapangan yang lebih kecil dari lapangan sepakbola tradisional (sepakbola biasa), tetapi lebih besar dari lapangan futsal. Minisoccer juga (selalu) menggunakan rumput sintesis sehingga kita serasa bermain di lapangan sepakbola tradisional. Singkatnya, minisoccer adalah olahraga sepakbola menggunakan lapangan mini.

Setelah bermain minisoccer –yang ternyata cukup menyenangkan–, saya duduk di tribun dan mengeluarkan celetukan, “siapa ya yang punya ide bikin minisoccer?”. Saya berkata seperti itu karena kita sudah punya olahraga sepakbola tradisional, selain itu futal juga sudah sangat populer di masyarakat. Kenapa ada orang yang terpikir untuk membuat lapangan yang futsal bukan, sepabola juga bukan, lalu memasarkannya di masyarakat?

Setelah saya renungkan, ternyata minisoccer adalah contoh dari disruptive innovation.

Apa itu disruptive innovation?

Istilah disruptive innovation dicetuskan pertama kali oleh Clayton M. Christensen dan Joseph Bower pada artikel "Disruptive Technologies: Catching the Wave" di jurnal Harvard Business Review (1995). Disruptive innovaton adalah adalah inovasi yang membantu menciptakan pasar baru,mengganggu atau merusak pasar yang sudah ada, dan pada akhirnya menggantikan teknologi terdahulu tersebut.

Walau tidak seagresif pengertian disruptive innovation diatas, minisoccer bisa dikategorikan inovasi baru dalam hal menciptakan pasar. Pasar sepakbola komersil yang popular saat ini hanyalah sepakbola standar dan futsal. Minisoccer muncul ditengah kedua pasar tersebut dan menawarkan pengalaman inovatif sehingga menciptakan pasar baru. Pengalaman yang ditawarkan berupa permainan sepakbola yang “terasa” seperti futsal namun memiliki cita rasa sepakbola tradisional.

Dalam menciptakan pasar baru, minisoccer melihat peluang, masalah, dan memberikan solusinya. Peluangnya adalah potensi sebagian kalangan yang ingin bermain sepakbola tradisional. Problemnya adalah:

  1. Terbatasnya lapangan sepakbola tradisional yang bisa disewa
  2. Harga sewa lapangan tradisional yang relatif mahal
  3. Sulitnya mencari 22 pemain untuk bermain sepakbola tradisional
  4. Stamina. Hanya yang kondisinya prima dan fit yang bisa bermain sepakbola tradisional full 2x45 menit
Kehadiran minisoccer menawarkan solusi berupa harga sewa lapangan yang relatif terjangkau, lapangan yang diperkecil sehingga tidak memerlukan stamina setara atlet, dan jumlah pemain yang tidak sampai 22.

Minisoccer mengajarkan saya mengenai disruptive innovation dengan cara melihat peluang, masalah, lalu mencari solusi sehingga bisa menciptakan pasar baru. Disruptive innovation adalah term yang sangat populer di kalangan startup digital, tetapi ternyata kita bisa sedikit belajar mengenai hal tersebut di dunia olahraga (minisoccer).

Lalu, kenapa judulnya pengantar?

Sebagai pencinta teknologi, saya suka membaca, menganalisa, dan mengamati perkembangan teknologi khususnya di dunia startup digital. Tulisan ini menjadi pengantar karena di lain waktu saya akan mencoba menulis lagi hal yang berkaitan dengan teknologi maupun disruptive innovation. Ditunggu ya :)

--
Ecky
Kendari, 04 Agustus 2016
*gambar adalah dokumentasi pribadi

RELATED POSTS

4 comments

  1. Main bola di lapangan ini gak terlalu capeklah ya. Lapangannya gak terlalu panjang dan gak terlalu lebar. Cuma jarang ada di tiap kota, :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, perpaduan antara futsal dan sepakbola traisional. Kekurangannya memang masih jarang ada di Indonesia :D

      Hapus
  2. harus dicoba nih... berat dan ukuran bolanya bagaimana ya? hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, kapan-kapan boleh dcoba. Dari pengalaman saya bermain, ukuran bola mirip sepakbola standar, tapi agak kempes, jadi sedikit lebih berat.

      Hapus

Terima kasih atas apresiasinya :)
Klik beritahu saya untuk mendapatkan notifikasi komentar selanjutnya via email