Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Transportasi Online Menggunakan Model Money Game, Benarkah?

18.43 Ecky Agassi 19 Comments Category :

Bismillah.


Ada salah satu tulisan yang akhir-akhir ini sedang ramai mengenai bisnis transportasi online. Tulisan itu ditulis oleh salah seorang Satria Mahendra di Facebook. Tulisannya bisa dilihat di sini

Tulisan tersebut membahas tentang business model transportasi online yang dianggapnya merupakan sebuah money game. Tulisan tersebut telah mendapatkan berbagai tanggapan oleh beberapa kalangan seperti Bang Radyum Ikono (Nanocenter Indonesia) di sini, dan Bang Fajrin Rasyid (CFO Bukalapak) di sini .

Dalam tulisan Bapak Satria mengenai transporasi online, alih-alih bermasalah pada aplikasi atau regulasinya (which is, saya berpendapat memang bermasalah di regulasinya), ybs mengatakan bahwa masalahnya ada pada harga yang unnatural (tidak natural). Ybs berpendapat bahwa harga yang ditetapkan oleh startup transportasi online adalah harga yang tidak wajar karena tidak sesuai dengan harga pasar. Harga ditetapkan dibawah cost sehingga sudah pasti perusahaan akan merugi. Lalu jika merugi, mengapa perusahaan bisa bertahan sejauh ini? Jawabannya ada pada skema gali lubang-tutup lubang a la skema Ponzi.

Ybs berpendapat bahwa model bisnis transportasi online yang bisa bertahan dengan menggunakan harga dibawah cost adalah karena adanya gali lubang tutup lubang. Investor mensubsidi harga sehingga harga bisa ditetapkan dibawah cost. Kerugian investor pertama akan akan ditutup oleh investor selanjutnya, demikian berulang hingga akhirnya –menggunakan istilah ybs—bom akan meledak.

Benarkah pendapat ybs? Menurut saya, asumsi ybs terlalu terburu-buru dan tidak menggunakan wawasan finansial yang lebih luas.

Seperti yang sudah dibahas oleh Bang Fajrin, ybs lupa bahwa dalam bisnis startup ada berbagai model investasi yang diberikan oleh investor. Berbeda dengan usaha pada umumnya, investor memberikan model investasi finansial sedemikian rupa sehingga model investasinya tepat guna dengan bisnis startup yang akan dibiayai. Jarang investor yang membiayai startup dengan fix return. Misal: saya biayai perusahan anda $1 juta dolar, harap kembalikan dengan cicilan sebesar $100rb per bulan selama setahun (margin lebihnya merupakan keuntungan investor). Kenapa model seperti ini jarang digunakan? Karena investor tau bahwa startup digital rata-rata adalah model bisnis yang baru bisa menguntungkan dalam waktu lama (long term investment). Berbeda dengan bisnis komoditas, misalnya roti, yang dalam satu pembuatan roti terdapat variabel cost yang harus segera dibayar (gandum, gula, dsb). Bisnis digital memiliki fix cost yang sangat besar namun variabel cost yang minim. Oleh karena itu bisnis digital sangat besar investasinya diawal, namun marginal cost-nya (tambahan biaya per satu produk) sangat rendah dibandingkan fix cost-nya, sehingga perusahaan sangat memprioritaskan untuk mencetak pertumbuhan. Investor yang baik paham akan hal ini, dan tentu saja tidak akan berharap untuk short term return.

Dunia startup digital memiliki beberapa model investasi, misalnya Convertible Debt dan Safe.

Convertible debt adalah model investasi sederhana dimana investasi dibayar dengan cicilan yang memiliki maturity date (tanggal jatuh tempo). Investasi model ini cukup sederhana dalam pola pembayaran karena seperti mencicil utang biasa di bank. Bedanya, convertible debt bisa diubah (thus, convertible) menjadi equity (saham). Kenapa menjadi saham? Karena dengan saham, artinya investor punya hak untuk menentukan arah perusahaan. Namun, saham baru akan bernilai jika perusahaan sudah IPO (initial public offering). Perubahan debt menjadi saham juga menguntungkan investor karena jika perusahaan bernilai tinggi, nilai saham pun akan tinggi. Walaupun memiliki model seperti ini, bukan berarti startup bisa menggunakan dana tanpa pertanggung jawaban, karena jika gagal membayar sudah pasti perusahaan akan bankrut. Convertible debt sudah jarang dipakai dan yang lebih populer sekarang adalah model investasi dari YCombinator (salah satu venture capital terkenal yang telah berinvestasi di Dropbox dan Airbnb) berupa investasi model Safe (simple agreement for future equity), dimana Safe adalah convertible debt tanpa pembayaran cicilan dan tanpa maturity date. Diantara ciri-ciri Safe adalah sebagai berikut:
  • Unlike a convertible note, a safe is not a debt instrument
  • Because the money invested in a startup via a safe is not a loan, it will not accrue interest
  • Startups and investors will usually only have to negotiate one item: the valuation cap
source: YCombinator
Lalu apa yang didapatkan oleh investor dalam Safe? Dalam waktu singkat, tidak ada, hingga hasil yang dipersyaratkan diperjanjian terjadi (misal, perusahaan berhasil mencapai keuntungan sebesar X). Safe cukup fleksibel sehingga bisa diubah sesuai dengan perjanjian antara investor dengan startup (misal, diubah menjadi saham jika perusahaan sudah IPO).

Selain dua model diatas, investasi startup biasanya dilakukan dalam beberapa tahap, misal seed round, seri A, seri B, dst. (baca: Grabtaxi berhasil mendapatkan pendanaan seri D).

Selain berbagai model investasi, investor pun banyak macamnya. Ada venture capital (perusahaan investasi), ada angel investor (investor perorangan), micro ventures, dll. Dengan berbagai macamnya model investasi dan model investor --ditambah lagi dengan strategi long investment dari para investor-- menyimpulkan startup menggunakan skema ponzi karena bisa memberikan harga yang dibawah harga pasar agaknya berlebihan. Pendapat tersebut alfa dalam mempertimbangkan investment model, digital startup business model, dan khususnya long term investment strategies.

Lho, saya juga kan tidak tau pola bisnis dan investasinya? Memang, saya juga tidak tau secara mendetail mengenai pola bisnis dan strategi jangka panjang para startup transportasi online di Indonesia. Namun setidaknya ada dua hal yang jadi pertimbangan:
  1. Daftar investor. Setidaknya kita tau bahwa Gojek mendapatkan investasi dari Angel Investor dan Northstar Grup, serta Grab yang mendapatkan investasi dari Softbank  dan China Investment serta Didi Kuaidi (Ubernya China).
  2. Pengalaman dan tren. Jika melihat contoh kasus model bisnis Uber yang sudah lebih berpengalaman dan mendunia, kecil kemungkinan Uber menggunakan bisnis model dengan skema ponzi.
Berbekal pengetahuan tentang pendanaan startup dan dua hal diatas, saya berkeyakinan bahwa bisnis Gojek dan Grab tidak menggunakan model bisnis yang tidak sustainable yaitu money game dengan skema Ponzi. Tentu tulisan ini tidak memiliki jaminan atas kebenaran kesimpulannya, namun setidaknya tulisan ini bisa lebih mencerahkan melalui pemahaman dunia startup yang lebih luas.

--
Ecky,
Kendari 26 Maret 2016

*Foto dari Instagram Tommy Wahyu Utomo
*Jika anda tertarik mendalami sedikit tentang startup investment, anda bisa berlangganan materi online dari http://gohighbrow.com
*Lebih lengkap tentang model investasi Safe bisa anda lihat dalam dokumen YCombinator
*Jika anda tertarik melihat startup digital dalam kacamata yang lebih makro, Peter Thiel, salah satu mafia Paypal, menulis buku yang berjudul Zero to One, yang bisa menjadi referensi anda.

RELATED POSTS

19 comments

  1. Mantab mas Ecky dalam menganalisis, berpikir positif dulu, dan menganalisis berdasarkan ilmu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Mr.How, saya masih perlu banyak belajar :)

      Hapus
  2. Kalau pendekatan analisa yang diberikan oleh Satria Mahendra adalah benar tak berapa lama lagi bangkrutlah itu bisnis transportasi online. Beberapa bisnis transportasi online sudah berjalan tahunan di beberapa negara, belum bangkrut juga, hahaha... Tapi kita lihat aja beberapa tahun ke depan kondisinya di negara kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Good point mas,
      iya, di Indonesia, suasana disruptive startups sudah mulai ramai, semoga kedepan akan semakin banyak inovasi di dunia digital dari anak bangsa :)

      Hapus
  3. Belum pernah ngicipi yang online.. Tidak ada pelatihan (di awal) ataupun cek kondisi motor dll (yang rutin)? Jadi berarti tidak ada semcam standar kompetensi (orang) atau kelaikan (kendaraan) ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk hal itu saya kurang tau mas, tapi setidaknya untuk Gojek --kebetulan teman SMA saya co-founder Go-Glam--, mereka memiliki beberapa standar seperti verifikasi kelayakan kendaraan. Dan memang mestinya hal tersebut (pelatihan, verifikasi, maintenance), menjadi standar operasional perusahaan transportasi online.

      Hapus
    2. Oh begitu, jadi lebih jelas sekarang. Terima kasih. Maklum, calon konsumen, fokus awalnya selalu 'bawel duluan, nyoba belakangan' :)

      Hapus
  4. wah keren penjelasannya mas... jadi menambah ilmu... mksh bnyak mas...

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama mas, semoga bisa menambah wawasan :)

      Hapus
  5. Terkait fenomena bisnis online ini saya juga penasaran mas gimana perkembangannya kelak. Kalau ada dinamika yang terjadi sekarang menurut saya baru awalannya saja.. entah bagaimana nantinya masih penasaran juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bu, kedepan akan lebih seru dengan berbagai inovai dari dunia digital. Semoga semakin memudahkan dan meningkatkan taraf kehidupan kita :)

      Hapus
  6. Balasan
    1. Sebenernya berbeda, tapi karena di startup funding banyak financial terms yang njlimet, jadi terlihat kayak game :P

      Hapus
  7. menarik, tapi kok bisa murah ya. #mumet

    BalasHapus
    Balasan
    1. perpaduan antara berbagai hal, terutama dari model bisnis yang lebih efektif dan efisien, serta dukungan dana promosi yang besar :)

      Hapus
  8. klo menurut saya memang ada main rugi di awal untuk kejar target di depan yg nantinya akan menutupi kerugian sebelumnya, hrs butuh dana besar untuk itu...dan itu sudah lama dijalankan oleh google

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul, tapi itu bukan money game melainkan dana promosi. Tidak hanya di dunia startup online, di bisnis biasa pun normal rugi diawal sebagai trade off promosi :)

      Hapus
  9. Transportasi Udara Online ... itu cetusan terbaru yang bakal booming

    NLP Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hal ini sudah dimulai oleh Uber melalui UberCHOPPER, transportasi online helikopter on-demand :D

      Hapus

Terima kasih atas apresiasinya :)
Klik beritahu saya untuk mendapatkan notifikasi komentar selanjutnya via email