Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Tentang Barbershop

11.43 Ecky Agassi 2 Comments Category : , ,



9 bulan di Makassar, saya hanya potong rambut dua kali. 4 bulan di Kendari, saya sudah 2 kali potong disini, di hari yang berurutan. *zonk*

Memotong rambut di kota yang baru bukanlah hal yang mudah. Saya harus mencari-cari informasi dimana tempat potong rambut yang bagus, terjangkau, dan (kira-kira) pas dengan selera. Ini sebenarnya adalah masalah utama di dunia perpotongrambutan laki-laki. Laki-laki belum memiliki standar tempat potong rambut seperti Salon bagi perempuan. Seringkali diperlukan trial and error agar mendapatkan tempat potong rambut yang sreg.

Setelah tanya sana-sini dan cari-cari di internet, saya memilih salah satu Barber Shop (yang sepertinya lumayan) di dekat kos saya. Saat ditanya mau potong apa, saya hanya bilang beberapa permintaan yang intinya, rapihin aja mas, pendekin xD. Lagi-lagi ini adalah problematika dunia perpotongrambutan laki-laki. Saya dan banyak yang lainnya gk paham model-model rambut, taunya rapihin aja. Laki-laki cenderung cuek dan gak macem-macem dengan gaya, yang penting rapi dan pantas.

Karena miskomunikasi dengan sang tukang cukur, proses potong rambut saya sangat cepat hingga saya heran dan berkata dalam hati, udahan nih? Keheranan saya terbukti ketika dirumah saya perhatikan potongan rambut saya sangat berantakan dan dengan terpaksa harus potong ulang. Besoknya saya kembali googling dan menemukan tempat potong rambut baru di Kendari. Saya potong rambut lagi hanya dengan harapan, asal rapi aja deh.

--

Contoh pengalaman saya diatas adalah hal yang mungkin melatarbelakangi menjamurnya Barbershop baru di Indonesia akhir-akhir ini. Saya ingat, salah satu episode talkshow Kick Andy diisi oleh entrepreneur muda yang berbisnis Barbershop. Mereka membuka barbershop dengan nama Gentleman Barbershop. Berbeda dengan tukang cukur atau barbershop biasa, Gentleman Barbershop beroperasi dengan layanan konsultasi. Proses potong rambut dilakukan dengan dialog dan konsultasi antara customer dengan tukang cukur.

Ketika ditanya kenapa memilih bisnis Barbershop, salah satu pendirinya berkata dengan poin sebagai berikut: “laki-laki kalo cukur biasanya bingung mau cukur apa, biasanya cuma bilang rapihin aja, kadangkala hasilnya gk bagus. Melihat masalah tersebut, akhirnya kami mendirikan Barbershop dimana customer bisa konsultasi mengenai potongan rambut apa yang customer inginkan. Dengan komunikasi ini, tukang cukur kami akan memberikan rekomendasi berdasarkan jenis rambut, bentuk wajah, dll, sehingga hasilnya bisa memuaskan”. Dengan konsep ini, Gentleman Barbershop menuai sukses besar, terbukti dengan customer yang harus mengambil antrean dari H-1 jika ingin potong rambut di Barbershop mereka, udah kayak daftar dokter :D (gk heran, karena mereka sama-sama “konsultasi”).

Sekarang sudah banyak Barbershop yang memiliki ahli cukur profesional yang lebih komunikatif terhadap customer. Barbershop-nya juga dikemas dengan tertata, bersih, dan lebih nyaman dibandingkan Barbershop pada umumnya.

Kenapa Gentleman Barbershop sukses? Kenapa mulai banyak Barbershop dengan konsep serupa menjamur? Customer oriented adalah kata kuncinya. Bisnis B2C (business to customer), apalagi bisnis jasa, sudah seharusnya memiliki visi customer oriented, bisnis yang memberikan perhatian lebih pada voice of customer dan memberikan service serta produk berdasarkan voice of customer tersebut. Bahkan Perbankan tempat saya bekerja sekarangkan pun telah mengubah visi bisnisnya dari product oriented menjadi customer oriented.

Dengan berorientasi pelanggan, pelanggan adalah pihak yang kita utamakan. Mendengarkan suara pelanggan akan memberikan insight mengenai apa yang sebenarnya mereka inginkan, sehingga kita bisa mengolah dan memberikan produk yang tepat guna. Customer yang butuh produk namun belum tau produk apa yang tepat bagi mereka, dijembatani oleh konsultan yang memiliki keahlian di bidangnya akan menghasilkan simbiosis mutualisme, sama-sama menguntungkan.

Saya bukanlah wirausahawan, namun pengalaman saya berkerja di Perbankan yang bekerjasama dengan berbagai wirausahawan (dan pengalaman saya salah potong rambut tentunya), membenarkan apa yang selama ini hanya saya pelajari di ruang-ruang kelas.

Semoga saya bisa membantu bisnis istri saya menjadi lebih baik, dengan visi customer oriented, yang bisa memberikan produk yang terbaik untuk membantu customer.

Karena saya yakin, bisnis yang baik adalah bisnis yang membantu orang lain.

--
Ecky
Kendari, 13 Januari 2016

*sumber gambar: stracksbarbershop.com

RELATED POSTS

2 comments

  1. Uuuu sayangnya di Kendari belum ada Gentleman Barbershp ya :p
    kamu dipotong kayak gimana aja rambutnya juga bagus kok :3

    penarikan pengalaman ke "teori" yg oke anw dear, as usual.. bismillah ya smg jeeva bisa pelan2 punya strategi customer oriented yg lebih baik :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. hhaha terimakasiih :3

      aamiin, going forward, Jeeva :D

      Hapus

Terima kasih atas apresiasinya :)
Klik beritahu saya untuk mendapatkan notifikasi komentar selanjutnya via email