Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Starbucks dan Informasi Digital

14.32 Ecky Agassi 8 Comments Category :

Bismillah.

Pertengahan November lalu, saya mendapatkan broadcast dalam sebuah grup whatsapp mengenai salah satu brand kopi internasional yaitu Starbucks. Broadcast tersebut berupa gambar dan peringatan hati-hati minum di kedai kopi tersebut.


Pesan tersebut agaknya cukup viral karena saya mendapatkan broadcast foto tersebut di grup whatsapp yang lain. Karena sudah seringnya berita digital tak bertanggung jawab yang menyebar dimasyarakat kita, maka saya pun mencoba mencari kebenaran informasi tersebut.

Dari analisa awal, sebenarnya kita bisa menilai dari segi visual poster tersebut. Dari segi visual, poster terkesan dibuat tidak profesional khususnya di bagian typography. Font tidak konsisten dengan brand visual Starbucks dan tata letaknya kurang aesthetic. Menurut saya, poster ini tidak cocok sebagai poster brand besar internasional.

Karena analisa visual saja tidak cukup, kita lanjutkan ke analisa selanjutnya yaitu analisa informasi. Dari hasil googling dengan beberapa keyword, saya mendapatkan informasi bahwa Starbucks memang mendukung LGBT dan hal tersebut secara official telah diumumkan CEO Starbucks pada tahun 2003 (berita terkait: Starbucks Gay Marriage Stance: CEO Puts Smackdown On Anti-Marriage Equality Shareholder). Selain informasi tersebut, saya tidak mendapatkan satu pun penjelasan dari sumber terpercaya bahwa kampanye poster diatas benar dilakukan oleh Starbucks.

Saya pun kembali googling, kali ini dengan keyword agak panjang menggunakan kata-kata dari poster tersebut yaitu “a percentage of every starbucks purchases is donated to support same-sex marriage”. Hasil pertama yang muncul dari google adalah sebuah laman pdf dari website California State University di www.csuchico.edu berupa poster lengkap dengan deskripsi. Kutipan informatif dari pdf tersebut adalah: (alamat lengkap pdf: http://www.csuchico.edu/jour/jtimes/fall12/images/studentspot/infogallery/KSonesAd.pdf)

“In order to evaluate the effectiveness of our communication efforts through this specific ad campaign, we will measure overall market sales in order to see if sales have increased or decreased after full distribution. Another way we will test the impact of this campaign is if media outlets are covering our ads. If the media is talking about us, people are talking about us. We want to spread the word through multi-platform media because, after all, no publicity is bad publicity.
...
The art used in the print ad includes a picture which is from the free stock photo site morguefile.com.”

Tidak ada penjelasan lebih jauh dari website California State University mengenai poster tersebut sehingga kita mesti membuat kesimpulan dari informasi yang ada. Pertama, sangat mengherankan bahwa perusahaan sebesar Starbucks menggunakan foto stok internet sebagaimana tertera di pdf “The art used in the print ad includes a picture which is from the free stock photo site morguefile.com”. Kedua, jika kita potong alamat lengkap pdf menjadi http://www.csuchico.edu/jour/jtimes/fall12/ maka kita akan dibawa ke laman jurnalistik “Jurnalism Times, The Chico State Department of Jurnalism & Public Relations Newsletter”.

Berdasarkan dua informasi ini, saya menduga bahwa ini adalah poster buatan mahasiswa California State University yang mungkin digunakan sebagai penelitian jurnalistik (“we will measure overall market sales in order to see if sales have increased or decreased after full distribution”), sehingga poster tersebut bukanlah poster official dari Starbucks. (Correct me if i'm wrong)

**

Tak berapa lama berselang, Starbucks melakukan klarifikasi melakui kanal facebook miliknya.

Dengan munculnya pernyataan resmi dari Starbucks Indonesia, maka berakhirlah gonjang-ganjing mengenai keabsahan poster tersebut. Kesimpulan yang didapat adalah Starbucks as a company memang mendukung LGBT sebagaimana perusahaan-perusahaan multinasional lain seperti Apple, Microsoft, Google, Amazon, yang juga mendukung LGBT. Namun Starbucks tidak menggunakan hal itu sebagai bahan kampanye produk, apalagi di Indonesia yang notabene mayoritas Muslim.

--

Poin saya disini bukanlah mengenai Starbucks, apalagi mendukung Starbucks (fyi saya baru satu kali masuk Starbucks, dan itupun ditraktir). Poin saya adalah bagaimana kita harus bisa lebih baik dalam mengelola informasi di dunia digital, dimana informasi –benar maupun salah-- bisa tersebar dengan mudah. Kita mesti memiliki tanggung jawab sebelum menyebarkan informasi digital yang kita dapat. Dengan adanya tanggung jawab, kita akan lebih hati-hati dalam menyebarkan informasi. Kurangnya rasa tanggung jawab membuat kita dengan sangat mudah menyebar informasi tanpa memverifikasi kebenaran dari informasi tersebut.

Bagi sebagian orang, niat menyebarkan informasi seperti diatas mungkin disebabkan dorongan kepedulian yang sangat besar terhadap sesamanya agar tidak terjerumus dalam hal yang salah. Hal tersebut adalah hal sangat baik, namun jika tidak disertai dengan kebijaksanaan dalam mengolah dan menyebarkan informasi digital, maka malah kita yang akan menjerumuskan mereka.

**

Saya sudah beberapa kali menulis tentang informasi digital, anda bisa membacanya di
Apa itu Hoax?  Itu Cuma Hoax Kok
Tentang #SaveRohingya Broadcast the Truth

Disclaimer:
Saya tidak terlibat dengan Starbucks dan saya tidak mendukung Starbucks dalam hal apapun, termasuk LGBT. Poin saya adalah kebijaksanaan kita dalam menerima dan mengolah informasi.
--Ecky
5 Desember 2015

RELATED POSTS

8 comments

  1. zaman sekarang di era informasi digital gini sulit banget mencegah info2 salah berkeliaran, akhirnya masyarakat jadi gampang diadu domba, klo orangnya kritis sih gak masalah pasti akan dikroscek dulu, tapi kebanyakan orang indo kan males kroscek jadilah seperti yang sering kejadian ini, share berita tanpa tau kebenarannya terlebih dahulu...
    *lah jadi curhat*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga masyarakat kita bisa lebih bijak lagi dalam mengolah informasi ya jri. Kalo kata Zen Rs, “yang bahaya dari menurunnya minat membaca adalah meningkatnya untuk berkomentar”

      Hapus
  2. Hadooh, capek deh, hari gini masih pada ngeributin kampanye tanpa selidiki lebih lanjut seperti yang elo lakukan. Good job bro!

    Saya sih gak masuk Starbucks karena mahal. Lebih asik ke Jco. Hehehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya pun lebih suka kopi bikinan sendiri menggunakan Vietnam Drip om, hehe :P

      Hapus
  3. Nice post pak..Walaupun iklan itu tidak resmi,, tp penyataan dr CEO tentang dukungannya sudah sangat jelas mengenai pandangan mereka terhadap LGTB.. jadi sebagai umat beragama sudah sepatutnya kita melakukan boikot.. bukan artinya kita harus membenci pelaku LGTB tapi yang pasti TIDAK BOLEH didukung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih atas komentarnya. Seperti yang sudah saya jelaskan dalam tulisan diatas, poin saya adalah bagaimana kita harus bisa lebih baik dalam mengelola informasi di dunia digital. :)

      Hapus
  4. Artikel yang mantap Kak.

    Setuju banget sih dengan 'banjir'nya informasi di jaman sekarang Kita kudu cek n ricek lagi apakah informasi itu benar atau 'benar-benar'an doang hehe.

    Apalagi sebelum nyebarin lagi info yang Kita dapetin ke orang lain, bisa-bisa jatohnya nyebar fitnah. Note to my self hehe. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Khairi, semoga kita bisa menjadi orang yang bertanggung jawab dalam menyebarkan informasi :)

      Hapus

Terima kasih atas apresiasinya :)
Klik beritahu saya untuk mendapatkan notifikasi komentar selanjutnya via email