Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Monkey Business dan Irrational Exuberance

19.07 Ecky Agassi 12 Comments Category : ,

Bismillah.



Ilmu ekonomi adalah ilmu yang membahas keinginan manusia yang tak terbatas yang dihadapkan pada sumber daya yang terbatas (kelangkaan). Dalam melakukan analisisnya, ilmu ekonomi sering melakukan asumsi untuk memudahkan kita dalam menciptakan kerangka berpikir dan lingkungan yang memengaruhi (kita bisa menganalogikan asumsi ini pola ekperimen sains yang memberikan batasan-batasan lingkungan pada laboratorium yang terkontrol). Dalam membuat analisis eknomi, salah satu analisis yang paling dominan adalah rasionalitas. Asumsi ini beranggapan bahwa manusia adalah makhluk rasional. Asumsi ini sangat diagungkan khususnya dalam pendekatan ekonomi neoklasik. Jika ditelisik lebih jauh, sebenarnya hal ini masih menjadi perdebatan di kalangan para ekonom. Terdapat perbedaan pendapat antara ekonom yang berpegang teguh bahwa manusia rasional dengan ekonom yang pendapat bahwa manusia tidak selalu rasional. Pada tulisan kali ini saya tidak akan membahas mengenai kontroversi tersebut tapi saya akan sedikit membahas isu yang terkait dengan irasionalitas dalam melakukan kegiatan ekonomi.

Dewasa ini seringkali kita melihat fenomena ekonomi yang tidak lazim. Contoh yang baru-baru ini bisa kita lihat adalah fenomena tanaman hias Anthurium di tahun 2007 dan fenomena Batu Akik di tahun 2015. Saat sedang booming-boomingnya, sebuah Anthurium jenmani kobra 20 daun terjual seharga Rp260 juta, bahkan sebuah Anthurium supernova bisa terjual seharga Rp1 miliar (1). Booming ini terjadi dalam waktu yang relatif sangat cepat tanpa ada suatu fenomena natural yang terjadi. Dalam perspektif ekonomi sederhana, kita bisa melakukan beberapa pertanyaan standar kenapa hal itu bisa terjadi. Apakah Anthurium itu menghasilkan sesuatu menyebabkan nilai utilitasnya bertambah? (misal menghasilkan umbi emas atau menjadi obat penting), Apakah terjadi kelangkaan yang sangat ekstrim sehingga tanaman Anthurium hanya tinggal beberapa puluh pohon? (misal terjadi kematian tanaman masal), tapi ternyata tidak.

Selanjutnya di tahun 2015 ini terjadi booming yang terjadi sangat cepat, yaitu fenomena batu akik. Batu akik yang dulu dikenal sebagai batu untuk orang tua sekarang  bisa mencapai harga ratusan hingga milyaran rupiah (2). Sebagaimana Anthurium, sebenarnya batu akik adalah komoditas yang pasarnya berada pada niche market, cerukan pasar, dimana konsumennya adalah end-user yang spesifik (hobiis, penyuka tanaman, biologis, penyuka batu mulia). Adalah sebuah anomali jika terjadi peningkatan permintaan yang sangat besar tanpa terjadi ekspansi pasar yang signifikan (yang berimplikasi langsung kepada permintaan). Apakah sekarang semua orang memakai batu akik? Apakah terjadi kelangkaan yang luarbiasa sehingga batu akik sangat sulit ditemui di pasar? Ternyata lagi-lagi tidak. Dari segi utilitas, batu akik pun tidak memberikan utilitas berbeda dibandingkan dengan sebelum booming ini terjadi.

Lalu sebenarnya apa yang terjadi? Para ekonom menyebutnya sebagai irrational exuberance. Secara sederhana, irrational exuberance adalah tindakan manusia yang tidak logis, irasional, dalam melakukan pembelian yang dilatarbelakangi oleh suatu emosi kolektif atau suatu yang tidak pasti. Istilah ini dipopulerkan oleh ekonom Amerika, Alan Greenspan dalam pidatonya di American Enterprise Institute dimasa dot-com bubbe pada tahun 1990an. Booming dan fenomena irrational exuberance dalam suatu komoditas biasanya sangat terkait dengan oknum yang menciptakan monkey business.

Apa itu monkey business?

Dikutip langsung dari akhnasrul.blogspot.com
Suatu hari di sebuah desa, seorang yang kaya raya mengumumkan akan membeli monyet dengan harga Rp. 50.000,- per ekor. Padahal monyet disana sama sekali tak ada harganya karena jumlahnya yang banyak dan kerap dianggap sebagai hama pemakan tanaman buah-buahan. 
Para penduduk desa yang menyadari bahwa banyak monyet disekitar desa pun kemudian mulai masuk hutan dan menangkapinya satu persatu.
Kemudian si orang kaya membeli ribuan ekor monyet dengan harga Rp 50.000,- . Karena penangkapan secara besar-besaran akhirnya monyet-monyet semakin sulit dicari, penduduk desa pun menghentikan usahanya untuk menangkapi monyet-monyet tersebut..  
Maka si orang kaya pun sekali lagi kembali untuk mengumumkan akan membeli monyet dengan harga Rp 100.000 per ekor. Tentu saja hal ini memberi semangat dan "angin segar" bagi penduduk desa untuk kemudian mulai untuk menangkapi monyet lagi. Tak berapa lama, jumlah monyet pun semakin sedikit dari hari ke hari dan semakin sulit dicari, kemudian penduduk pun kembali ke aktifitas seperti biasanya, yaitu bertani.
Karena monyet kini telah langka, harga monyet pun meroket naik hingga Rp 150.000,- / ekornya. Tapi tetap saja monyet sudah sangat sulit dicari.  
Sekali lagi si orang kaya mengumumkan kepada penduduk desa bahwa ia akan membeli monyet dengan harga Rp 500.000,- per ekor!
Namun, karena si orang kaya harus pergi ke kota karena urusan bisnis, asisten pribadinya akan menggantikan sementara atas namanya.
Dengan tiada kehadiran si orang kaya, si asisten pun berkata pada penduduk desa: "Lihatlah monyet-monyet yang ada di kurungan besar yang dikumpulkan oleh si orang kaya itu. Saya akan menjual monyet-monyet itu kepada kalian dengan harga Rp 350.000,- / ekor dan saat si orang kaya kembali, kalian bisa menjualnya kembali ke si orang kaya dengan harga Rp 500.000,- . Bagaimana...?". 
Akhirnya, penduduk desa pun mengumpulkan uang simpanan mereka dan membeli semua monyet yang ada di kurungan.
Namun...
Kemudian...
Mereka tak pernah lagi melihat si orang kaya maupun si asisten di desa itu!

Monkey bisnis adalah mischievous or deceitful behavior, bisnis yang dijalankan dengan menciptakan pseudo-demand, permintaan yang semu sehingga harga menjadi tidak rasional. Oknum bermain sehingga terjadi fenomena ekonomi yang tidak wajar dan memengaruhi harga secara signifikan.
Kenapa irrational exuberance dan monkey business sukses dijalankan? Pastinya banyak faktor, dan salah satunya adalah fenomena masyarakat Indonesia yang suka ikut-ikutan. Jangankan masalah ekonomi, kita bisa melihat contoh kecil melalui fenomena broadcast messages dan isu-isu tak jelas yang seringkali disebarkan oleh masyarakat kita tanpa verifikasi dan tanggung jawab.

Fenomena masyarakat Indonesia yang dinilai suka ikut-ikutan ini bisa disebut sebagai herd behavior. Dalam investasi, Krugman, ekonom Princetown University mengatakan fenomena ini adalah perilaku mengikuti isyarat kawanan (run with herd) (3). Masyarakat kita seringkali terjebak salah menilai pasar karena isu yang tak jelas sehingga terjadi perilaku herd behaviour, dimana keputusan ekonomi tidak dilakukan melalui analisa yang rasional, tapi melalui pendekatan emosial kolektif berupa herd behavior sehingga terjadi irrational exuberance.

Dalam kasus irrational exuberance yang dilatarbelakangi oleh oknum monkey business, biasanya bubble bisnis tidak akan bertahan lama. Sebagaimana balon sabun, monkey business akan mengembang tanpa pondasi yang kokoh sampai bisnis tidak mampu menopang dirinya sendiri hingga akhirnya pecah dan kembali kepada keseimbangan awal. Setelah pecah, harga akan kembali kepada keseimbangan pasar dan permintaan serta penawaran akan kembali seperti semula.

Di akhir tulisan ini saya tidak mengatakan bahwa bubble tanaman Anthurium ataupun batu Akik dilatarbelakangi oleh oknum yang menjalankan monkey business, namun dalam fenomena ini hal itu patut dicurigai. Dalam melakukan pembelian komoditas yang sedang booming, ada baiknya kita menelaah lebih lanjut kenapa terjadi booming yang disertai peningkatan harga yang tidak rasional. Kita bisa mulai dengan pertanyaan sederhana, apakah terjadi peningkatan utilitas? Apakah terjadi kelangkaan? Andalah yang menilai. :)

"what is popular is not always right, what is right is not always popular"
--
Ecky,
Makassar, 15 Februari 2015

*Dalam pendekatan ilmu ekonomi  yang menggandeng ilmu psikologi, hal ini bisa dianalisa lebih lanjut melalui economic approach to human behavior
*Jika anda tertarik lebih jauh mengenai rasionalitas dan irasionalitas manusia dalam ekonomi, anda bisa membaca debat antara Pramudya Oktavinanda dan Muhammad Kholid di Selasar.com

catatan:
1. Karanganyar turut mengalami anomali pasar anthurium Indonesia
2. Seperti ini Keriuhan Para Pemburu Batu Berharga Rp 50 Ribu hingga Rp 1,5 M
3. Herding behaviour
bahan bacaan:
1. Tentang Ilmu Financial Psychology, Booming Batu Akik dan Kegoblokan Kolektif
2. Irrational Exuberance
3. akhnasrul.blogspot.com

Picture credit: International Herald Tribune, October 27, 1989. Kal, Cartoonists and Writers Syndicate, 1989.

RELATED POSTS

12 comments

  1. Pasar empuk banget ya emang, masyarakat kita yg suka ikut2an plus kurang kritis (ntms).. semoga cepet pecah aja deh bubblenya, jadi ga semakin banyak yg terjebak dalam irasionalitas ini :( Jangan sampe nanti kita nemu berita "Anak SMA mencuri karena ingin membeli batu akik".. Naudzubillah....

    Anw, very nice article my dear :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kita memang harus kritis dalam menyikapi berbagai fenomena (dan kebijakan publik) ekonomi de,

      hehe iya, makasi dear ;)

      Hapus
  2. Bener banget nie mas... terlebih saat ini mereka para pelaku membawa hal ini ke arah spiritual.. sehingga dapat mengikat emosional dan rasionalitas mereka. Ya ga dipungkiri kebenaran ekonom amrik bilang klo saat ini tuh era "the age of turbulance" . Mungkin masyarakat kita harus ikut Rumah Perubahan biar ga lagi jadi passenger... hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul di, added values berupa hal spiritual sebenernya masuk ranah experience, walaupun sebenernya salah-salah bisa jadi dosa,
      haha RP memang keren ya? :P

      Makasi udah komen di :D

      Hapus
  3. masalhanya org kt konsumtif kak

    BalasHapus
  4. Kalau menurut saya ini cuma gejala sesaat, persis kayak tanaman bunga gelombang cinta dulu. Coba sekarang gelombang cinta jatuh harga.
    Kalo pintar memanfaatkan pasar pasti untung, hehe...

    BalasHapus
  5. aaaargh, apa jangan2 pelaku ekonomi kita sekarang masih mode panikan kayak gitu ya?

    BalasHapus
  6. Sepertinya
    Trend masa kini
    Makin sering begitu
    Ya Ecky

    Sesuatu jadi dicari
    Bukan karena 'kandungan nutrisi'
    Tapi lebih karena 'dampak informasi'. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. kadangkala begitulah,
      terimakasih telah berkomentar :)

      Hapus

Terima kasih atas apresiasinya :)
Klik beritahu saya untuk mendapatkan notifikasi komentar selanjutnya via email