Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

iPhone vs Android

17.09 Ecky Agassi 11 Comments Category :

Bismillah.

Postingan ini tidak akan membahas mengenai spesifikasi teknis, hardware, dsb antara iPhone dan Android, atau lebih tepatnya, device iOS dan Android. Postingan kali ini akan membahas mengenai salah satu poster yang pernah saya lihat saat Apple baru meluncurkan gadget terbarunya yaitu iPhone 6.


Poster diatas adalah poster yang “mengejek” iPhone 6 (iOS) dengan Nexus 4 (Android) –untuk lebih memudahkan selanjutnya akan disebut iPhone vs Android--. Poster tersebut mengejek fitur-fitur baru iPhone 6 seperti 4,7 inch screen, NFC payment, widgets, 3rd-party keyboards, dan fitur lain yang baru ada di iPhone 6. Dalam poster diatas, fitur baru iPhone 6 yang diluncurkan pada 2014 ternyata sudah ada di device android, dalam ini Nexus 4, sejak tahun 2012. Dengan katalain, iPhone sudah tertinggal selama dua tahun dibandingkan dengan android devices.

Benarkah demikian?

Secara teknologi perangkat, khususnya hardware, poster tersebut ada benarnya. Sebelum iPhone 6, Apple melalui satu-satunya gadget ponselnya yaitu iPhone memang belum memiliki fitur-fitur diatas. Apple melalui iPhone 1-5s belum memiliki ponsel dengan ukuran layar 4,7 inch, belum memiliki NFC payments, dan belum memiliki layar 750p. Secara hardware (dan software), Apple sangat tertinggal dari Android. Dua tahun ketertinggalan adalah waktu yang sangat lama untuk sebuah teknologi yang bergerak cepat seperti ponsel. Namun mengapa Apple tetap menjadi pemain besar –jika tidak bisa dibilang pemimpin pasar— di segmen smartphone? Disini kita bisa melihat kecerdasan desain dan marketing Apple.

Apple tau, bahwa dalam menjual sesuatu, yang dijual adalah value. Harga = Utilitas + Value. Konsumen membayar sesuai utilitas (manfaat) dari barang tersebut, serta value yang dimiliki oleh barang yang dibeli, Value terdiri dari berbagai faktor, seperti kehandalan, ketepat-suaian, dan pengalaman. Apple tidak hanya menjual hardware, sebongkah mesin layar sentuh kecil yang digunakan sebagai alat telekomuniasi. Apple menjual lebih dari itu, Apple menjual experience (pengalaman).

Bukan hal yang utama bagi Apple untuk membuat ponsel yang paling canggih, yang paling tipis, atau yang paling murah. Apple membuat apa yang pasar butuhkan disertai dengan desain yang indah dan teknologi yang sesuai. Contoh menarik dapat kita lihat dari gadget Apple lain yaitu iPad. Tahukah anda Apple bukanlah pelopor tablet, tetapi Microsoft? Apakah tablet buatan Microsoft 2001 meledak di pasaran? sayangnya tidak, menjadi yang pertama tidak membuatMicrosoft sukses dengan tabletnua. Sekian tahun selanjutnya yaitu pada tahun 2010, Apple meluncurkan iPad dengan desain yang indah, simpel, ekosistem iOS yang halus, dan diluncurkan di waktu yang tepat. Apa yang terjadi? Revolusi gadget dan penciptaan pasar baru yaitu pasar tablet.

Kembali ke iPhone, Apple membuat ponsel yang tidak hanya sekedar hardware. Apple menjual value, berupa pengalaman dalam menggunakan iPhone. Pengalaman menggunakan iPhone seperti misalnya Apple berhasil menciptakan positioning bahwa dengan menggunakan iPhone anda adalah orang yang keren, kreatif, dan berbeda. Selanjutnya pengguna iPhone dimanjakan dengan pengalaman menggunakan iOS yang smooth, jarang mengalami lag, desain visual yang simpel namun indah, ditambah dengan ekosistem yang terintegrasi dengan baik antar iDevices lain. Selain itu terdapat pengalaman menggunakan hardware gadget yang keren, yang bagi saya seperti sebuah karya seni, well-crafted devices, dibuat dengan indah dan dengan perhitungan matang. Hal-hal tersebuat adalah value yang bukan sekedar nilai tambahan, namun bisa komplementer dengan tujuan utama barang yang dijual yaitu sebagai gadget komunikasi.

Steve Jobs pernah berkata, “start from the consumer and work backwards”, dengan kata lain: Consumer Insight. Hal ini pula yang dilakukan (lebih tepatnya, direformasi) oleh perusahaan dimana saya bekerja, yaitu menangkap voice of customer lalu membuat produk yang diinginkan pasar, dan bukan sebaliknya. Think different. Berbeda dengan para pesaingnya, Apple fokus dengan sedikit produk lalu membuatnya menjadi produk yang berbeda dan diinginkan pasar. (Walaupun menurut saya hal ini sesungguhnya tricky dan terbatas pada sedikit pasar khususnya pasar teknologi, karena sulit membuat satu produk untuk berbagai segmen)

Experience. Itulah yang dijual Apple dengan iPhonenya. Value atas sebuah kepemilikan dan penggunaan iPhone. Apple membuat apa yang diinginkan pasar, lalu menjual experience melalui sebuah well-crafted device, dan diluncurkan di saat yang tepat. Apple built their success on artistic values.

Mmbeli iPhone adalah membeli pengalaman. Ketika vendor android gagal melihat itu dan hanya membandingkan apa yg konsumen dapatkan dari hardware, maka saat itu Apple menang.

--
Ecky,
Makassar, 9 Februari 2015

Side note:
-saya bukanlah Apple fanboy, dari berbagai produk Apple, saya hanya memiliki iPhone dan iPod yang sudah ketinggalan zaman. Saya bahkan memiliki keinginan membeli ponsel Android karena iPhone saya adalah model lama dan kurang reliable untuk kebutuhan sekarang. Saya hanya tertarik dengan pola marketingnya yang luar biasa dan keren.

-Artikel ini ditulis sebagai opini pribadi dan bukan sebagai ahli marketing, hehe :)

Akhir kata, Happy Blogging ;)

RELATED POSTS

11 comments

  1. Dari segi spek, iphone tentunya terbilang overpriced. Tapi ya tadi, Apple menjual 'experience', bukan hanya fitur.
    Saya sih fanboy Sony, tapi ga tau kalau udah punya penghasilan sendiri mah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mas, kalo dari harga aja memang overpriced, tapi yang dijual Apple kan bukan hanya hardware,
      hehe iya mungkin suatu saat bisa coba menggunakan iPhone mas :D

      Hapus
  2. Eh baru tau kalo hardware di dalam apple itu kalah sama android phone. Tp emg bener juga kalo apple tetap menguasai pasar dengan added value yang sesuai dengan consumer. Dia berhasil think different dan memanjakan consumer dengan experience. Thanks for sharing :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. dengan harga yang sama --biasanya-- devices Android akan lebih bagus hardwarenya diabndingkan dengan devices Apple mas,
      Sama-sama ya :)

      Hapus
  3. Dua device ini memang sangat fenomenal. Baik iphone maupun android punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Semua memiliki fungsi sebagai sebuah smartphone. Tentu kita biisa mempertimbangkan mana yang akan kita pinang sebagai smartphone utama

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, silahkan pilih sesuai preferensi masing-masing :)

      Hapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Saya manusia yg doyan alias hobi ganti-ganti hp dari mulai m8 ke G3 lanjut z3 trs coba 5s layar kecil ganti ke 6 dan jatuh hati ga ada niatan untuk menggantinya walapun persi S nya sudah keluar.. Just share

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mas, pilih yang paling sesuai kebutuhan dan keinginan :)

      Hapus
  6. Saya user android sejak ICS sampai sekarang Nougat. Yg sampai saat ini memang ada sedikit keinginan mencicipi lezatnya eksklusifisme dr iphone. Iya. Iphone adalah eksklusif. Masalah user friendly saya kurang setuju karena kurangnya keterbukaan di dalam OS nya. Sharing ke apps semudah di android? Membuka penyimpanan Lokal dan membaginya dalam satu sentuhan? Memilih apps default? Jika tidak ada Itu menjadi hal yg menyulitkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang anda kemukakan (mungkin) lebih diperlukan oleh user yang lebih mengerti teknologi. Untuk user biasa, IMO banyak hal pada iphone lebih simpel sehingga user tdak perlu repot. Pada akhirnya tergantung preferensi :)

      Hapus

Terima kasih atas apresiasinya :)
Klik beritahu saya untuk mendapatkan notifikasi komentar selanjutnya via email