Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Sisi Lain

16.51 Ecky Agassi 14 Comments Category : ,

Bismillahirrahmanirrahim



Sepakbola adalah pertandingan bola kaki yang dilakukan oleh dua tim, dalam lapangan 100x65 meter, dengan waktu 2x45 menit. Pertandingan berjalan dengan suasana riuh rendah suara suporter masing-masing hingga akhirnya pertandingan berakhir. Pertandingan selesai dan suporter akan pulang dengan membawa emosi masing-masing berupa perasaan senang, sedih, atau mungkin perasaan-perasaan lain.

Bagi anda penikmat sepakbola Eropa, rutinitas diatas akan berjalan menjadi siklus mingguan (dengan pengecualian bagi saya dan banyak suporter lain yang hanya bisa menonton d layar kaca :)). Weekend akan lebih menyenangkan dengan sepakbola. Pertandingan antara kedua tim yang memperebutkan sebuah bola dengan trik dan strategi masing-masing dan berusaha untuk menyarangkannya ke dalam gawang lawan sebanyak mungkin. 2x45 menit yang berharga dan penuh emosi. Namun hal ini tidak akan berjalan lama, setelah pertandingan selesai, hidup lalu berjalan seperti biasa dan sepakbola akan ditinggalkan --untuk sementara. Untuk kemudian weekend kembali datang dan gegap gempita kembali muncul, lalu berkakhir, untuk sementara, dan siklus yang sama akan terus bergulir.

Namun ternyata sepakbola bukan hanya mengenai pertandingan 2x45 menit.


Mes que un deporte, lebih dari sekedar olahraga
Suatu hari di 2013, saya browsing di website tim kesayangan saya, Internazionale Milano FC, untuk sekedar membaca berita dan perkembangan klub. Saya hanya browsing secara random hingga melihat artikel berjudul “Pupi Foundation Celebrates 12 Years,The Party With Javier and Paula Zanetti”. Artikel itu adalah artikel biasa, berisi foto-foto yang berisikan berita mengenai acara Anniversary Pupi Foundation, lembaga sosial milik kapten Inter saat itu, Javer Zanetti. Foto-foto tersebut memperlihatkan pemain inter berpakaian rapi dan casual, dengan pasangan masing-masing, dalam sebuah acara perayaan ulang tahun. Biasa, namun tak biasa.

Bagi saya yang terbiasa melihat mereka menggunakan seragam inter, lengkap dengan sepatu, pelindung tulang kering, dan aksesoris lain di lapangan, hal ini adalah hal yang aneh..tapi menyenangkan. Bagi saya yang lebih sering melihat mereka bertarung di lapangan sebagai prajurit dan atlet, lalu melihat mereka berinteraksi dengan ramah dan bersahabat adalah hal yang berbeda. Sebuah pemandangan sisi lain sepakbola yang tidak biasa dilihat oleh para suporter seperti saya.

Hal ini membuat saya merenung, bahwa sepakbola bukan hanya tentang pertandingan 2x45 menit di lapangan, tapi lebih dari sekedar itu. Bahwa sepakbola bisa dilihat lebih luas, misalnya dari gerakan sosial pemainnya, kegiatan pembinaan anak-anak klubnya, bahwa sepakbola terdiri dari para pemain yang juga seorang manusia. Bahwa pemain memiliki kehidupan diluar sepakbola, bahwa para pemain bisa berinteraksi dengan kawan maupun lawan di luar lapangan dengan respek dan saling menghormati.

Sepakbola juga bisa bergerak atas dasar filosofi dan nilai serta prinsip yang dipegang, sebagaimana tim ini, FC Internazionale Milano, yang berdiri karena ingin menjadikan sepakbola bukan hanya olahraga yang didominasi warga negara tertentu, namun menjadi olahraga yang multinasional. Internasionalitas, permainan yang memisahkan sekat geografi, untuk menjadi sebuah olahraga global, Internazionale.

Melihat sepakbola lebih dari sekedar pertandingan membuat saya menilai olahraga ini lebih humanis. Bukan sekedar pertandingan yang mengincar kemenangan tanpa ada sisi lain yang bisa dinikmati atau dipelajari.

Mungkin jika suporter Indonesia melihat sepakbola dari sisi lain yang berbeda, dari sisi yang lebih lembut, kita bisa melihat sepakbola Indonesia yang lebih humanis, dan lebih damai.

--
Ecky
Makassar, 16 Desember 2014

*Tulisan lain tentang sepakbola: Tentang Sepakbola
*picture credit: inter.it

RELATED POSTS

14 comments

  1. saya menikmati sepakbola sebagai hiburan aja, gak pernah dianalisis. tapi setuju, kita perlu melihat sepakbola Indonesia yang lebih humanis dan damai.

    BalasHapus
  2. Waaaah ada Zanetti, sebagai pemuja timnas Argentina saya cukup rindu dengan dia... seorang pemimpin sejati (y)

    BalasHapus
    Balasan
    1. pemimpin dan role model pesepakbola diluar dan di dalam lapangan :)

      Hapus
  3. Suka nonton bola tapi ga pernah paham mekanisme offside kwkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. tentang offide bisa ditonton disini --> https://www.youtube.com/watch?v=JiwmR6CC0Bk :)

      Hapus
  4. i'm back bang eckuyyy, with new blog :D
    baru mulai ngepos lagi nih ya? keep going ckuyyy

    BalasHapus
    Balasan
    1. waah kereen, :D
      makasi jrun, lo juga yaa :D

      Hapus
  5. Ya, banyak pemain sepakbola yang menyisihkan sebagian pendapatannya untuk kegiatan sosial. Kalo pemain Indonesia ada gak ya yang seperti Zaneti? Salam Interisti.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk pemain Indonesia kemungkinan ada, tapi enggak di-blow up aja mungkin :)
      Salam Interisti, #ForzaInter

      Hapus
  6. Saya cenderung lebih suka ikut bermain bola nya dan jarang sekali nonton pertandingan seperti orang-orang lainnya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. biasanya yang suka main bola suka nonton juga mas, tapi mungkin gak semua orang seperti itu, hehe
      Salam :)

      Hapus
  7. Justru karena suporter Indonesia terlalu erat mengaitkan kehidupannya dengan sepakbola yg bukan hanya sekedar pertandingan 2x45 menit tadi. Tapi masalahnya ya biasa, orang Indonesia lemah dalam menafsirkan dan memahami filosofi dari setiap hal.

    Yg pasti mah, Super Sunday adalah kado terindah buat penikmat sepakbola.

    BalasHapus

Terima kasih atas apresiasinya :)
Klik beritahu saya untuk mendapatkan notifikasi komentar selanjutnya via email