بسم الله الرحمن الرحيم
Assalamu'alaikum wr wb



Pada 18 Maret lalu saya datang ke Islamic Book Fair (IBF) 2012. Datang ke acara ini adalah kegiatan rutinan yang sudah saya lakukan sejak beberapa tahun lalu. Awalnya diajak teman, namun akhirnya jadi kegiatan yang sayang untuk dilewatkan.

Dari tahun ke tahun nampaknya tidak ada perubahan yang sangat signifikan dalam format acara maupun seting tempat di IBF. Pada tahun ini IBF tetap dilaksanakan di Istora Senayan, dilaksanakan selama beberapa hari, dan terdapat berbagai mata acara utama setiap harinya. Untuk tata letak, seperti biasa lorong-lorong dipenuhi berbagai stan, dari stan buku, peralatan sekolah, CD, hingga berbagai aksesoris muslim.
Saya datang ke IBF pada hari terakhir, dan ternyata pengunjungnya sangat membeludak. Saya tidak tahu apakah karena hari itu hari terakhir IBF 2012, atau biasanya memang seramai itu, namun saya merasa keramaian seperti itu cukup membuat tidak nyaman. Seringkali kita terhambat untuk berjalan di lorong karena terlalu sesak. Saat shalat juga sangat ramai, terutama saat maghrib karena waktunya relatif sempit. Mungkin keramaian seperti itu masih bisa dimaklumi, atau bahkan diapresiasi, karena menunjukkan bahwa banyak umat Islam yang masih bersemangat membaca buku-buku Islam. Tetapi saya tetap berharap bahwa EO bisa mengevaluasi faktor keramaian dan dapat me-manage event dengan lebih baik agar pengunjung lebih nyaman.

Hal lain yang saya perhatikan (dan kali ini disayangkan) adalah banyaknya sampah yang bertebaran, terutama pamflet-pamflet. Memang pamflet merupakan salah satu media promosi yang baik dalam event seperti ini, dan kita sebagai pengunjung pun seringkali mendapat pamflet. Namun bayaknya sampah berarti belum menunjukkan bahwa event ini pun belum dapat menjadi contoh yang baik dalam bidang kebersihan, dan lebih jauh lagi, tentang kesadaran masyarakat akan lingkungan. Memang tidak dapat dijadikan justifikasi, namun semoga kita bisa mendapatkan pelajaran dari hal itu.

Dalam beberapa event IBF yang saya datangi, baru kali ini (seingat saya) saya membeli buku di IBF (what a shame). Biasanya saya hanya melihat-lihat dan kadang membeli aksesori, tetapi untuk tahun ini IBF harus bisa dimanfaatkan dengan lebih, hehe.

Saya membeli tiga buku yaitu Sejarah Islam karya Ahmad Al-Usairy, terbitan Akbarmedia, Islam Liberal karya Akmal Syafril terbitan Indie Publishing, dan Fikih Jurnalistik karya Faris Khoirul Anam terbitan Pustaka Al-Kautsar. Saya membeli buku Sejarah Islam karena ingin mengetahui lebih lanjut fase Islam pasca Khulafaur Rasyidin hingga Ottoman.


Selanjutnya buku Islam Liberal 101 adalah buku yang membedah mengenai Islam Liberal, dalam judul ada angka 101 karena mengikuti kuliah-kuliah dasar yang biasanya berkode 101 :D. Saya mem-follow penulisnya @malakmalakmal dan karenanya sudah lama mengetahui buku ini lewat twitter. Penulisnya sering memberikan kultwit mengenai Islam Liberal, saya pun kadang-kadang mem-mention beliau untuk sekedar menyapa :D.


Untuk buku ketiga, Fikih Jurnalistik, saya menemukannya ketika sedang melihat-lihat, dan kemudian tertarik dengan judulnya karena saya cukup suka dengan jurnalistik.


Pembelian buku-buku tersebut juga berkaitan dengan budaya membaca saya yang terus menurun :(. Semoga ketiga buku tersebut bermanfaat dan menjadi bagian dari langkat langkah baik budaya membaca saya yang sedang kembali dirintis :D 

Dan semoga IBF bisa terus membaik dari tahun ke tahun :) 

Oh ya, tak lupa saya ucapkan selamat kepada teman satu angkatan saya di SMA, Oki Setiana Dewi, yang telah meluncurkan buku keduanya "Sejuta Pelangi, Pernik Cinta Oki Setiana Dewi" . Semoga bukunya bermanfaat. :)


Selamat Membaca :D
Log:
  • Terima kasih kepada Sarah Tasykuri yang telah mengoreksi buku Oki (tadinya saya tulis Melukis Pelangi)
  •  Dapet info dari Najmi, jika ternyata IBF gak pernah menggunakan EO melainkan diorganisir sendiri oleh IKAPI Jakarta
--
Ecky Agassi 
19 Maret 201
*iseng-iseng foto-foto bukunya :D