Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Mungkin Joni Blak-Blakan Benar

14.53 Ecky Agassi 17 Comments Category : , , ,

بسم الله الرحمن الرحيم

Assalamu'alaikum wr wb..


Senin, 18 Juli 2011, 09:39 WIB
Antique, Sukirno
VIVAnews - Kementerian Perdagangan menilai kenaikan harga bahan-bahan pokok atau pangan hanya merupakan siklus musiman menjelang Puasa dan Lebaran. Sebab, stok pangan menjelang bulan Ramadhan cukup.
"Stok cukup. Jadi, yang terjadi bukan gejolak harga tapi memang siklus musiman," kata Menteri Perdagangan (Mendag) Mari Elka Pangestu saat meninjau rumah potong ayam (RPA) PT Ciomas Adisatwa di Parung Bogor, Senin 17 18 Juli 2011....
http://bisnis.vivanews.com/news/read/233877-kenaikan-harga-pangan-hanya-siklus-musiman


Jumat, 15 Juli 2011 12:29 WIB
Metotvnews.com, Bandung: Harga sejumlah bahan pangan merangkak naik pada dua pekan menjelang bulan suci Ramadhan. Kenaikan harga mulai dari Rp2 ribu hingga Rp5 ribu dari harga asal. Pedagang mengeluhkan kenaikan harga tersebut.....
http://metrotvnews.com/read/newsvideo/2011/07/15/132111/Jelang-Puasa-Harga-Pangan-Meroket

Kenaikan harga pangan di Bulan Ramadhan adalah masalah yang siklikal (berrsifat siklus) dan musiman, setiap akan menuju dan saat Ramadhan, harga-harga pangan akan merangkak naik. Karena sudah sering terjadi, maka hal ini sering dianggap sebagai hal yang biasa oleh masyarakat. Bahwa saat Ramadhan harga pangan naik, ya wajar. Tetapi, mari kita sedikit membahas fenomenan ini.

Kita mulai dengan pertanyaan, kenapa harganya naik?

Harga pasar dipengaruhi oleh berbagai faktor, demand, supply, chain distribution, dsb. Dalam fenomena kenaikan harga pangan ini saya lebih melihat harga lebih dipengaruhi oleh demand dan supply karena sistem pasar kita selama Ramadhan tidak terlalu banyak berubah.

Sebuah konsep ekonomi dasar bahwa harga keseimbangan pasar dipengaruhi oleh demand (permintaan) dan supply (penawaran), jika permintaan naik maka harga naik, vice versa (ceteris paribus, dimana faktor diluar yang dibicarakan dianggap sama), begitu juga dengan penawaran dan harga. Dalam fenomena kenaikan harga pangan pada Ramadhan, ketika sistem pasar dan produksi tidak banyak berubah (misal, tidak ada kenaikan BBM, tidak ada paceklik berkepanjangan) maka yang akan memengaruhi harga pangan adalah dari sisi permintaan masyarakat (kita dapat melihat ini dari berubahnya pola konsumsi masyarakat di Bulan Ramadhan).

Pola konsumsi masyarakat yang berubah menekan keseimbangan sehingga harga berubah menjadi lebih mahal. Tetapi, wajarkah hal ini terjadi di Bulan Ramadhan?

Pertanyaan ini berawal dari teman saya yang mempertanyakan, kenapa di Bulan Ramadhan harga pangan malah naik, padahal kan puasa?Ketika saya menjawab, kan Ramadhan permintaan naik, dia jawab, berarti ada yang salah dengan puasa kita.

Jika dipikir, bulan-bulan biasa umumnya kita makan tiga kali sehari, harga gak naik. Bulan Ramadhan, makan dua kali sehari, tetapi harga malah naik?

Permintaan di dua kali makan tersebut mampu menekan harga dibandingkan permintaan tiga kali makan di bulan biasa. Apakah ini karena saat berpuasa kita ingin makan yang enak-enak?(yang menurut saya pengen makan enak untuk berbuka itu masih wajar), tetapi harga pangan yang sering naik malah makanan pokok lho, seperti beras dan minyak kelapa curah. Berarti memang terjadi peningkatan permintaan pada bahan-bahan pokok.
Tulisan ini bukanlah penelitian yang dapat melihat faktor-faktor yang valid yang menentukan apa saja yang memengaruhi harga di Bulan Ramadhan, tetapi mari kita sedikit berevaluasi.

Apakah di Bulan Ramadhan ini ternyata kita malah selalu balas dendam saat berbuka?
Apakah kita malah selalu kalap jika sudah dihadapkan dengan berbagai makanan di luar jam berpuasa?

Joni blak-blakan, tokoh dalam iklan sebuah operator seluler di Indonesia,  dalam salah satu scene secara blak-blakan berbicara ke tiga temannya, “buka kok rakus amat”.
Mungkin dia benar, bukan ke hanya tiga orang temannya itu.






Sebuah evaluasi bagi diri saya sendiri.

-Ecky-
4 Agustus 2011

RELATED POSTS

17 comments

  1. gue juga menyadari fenomena ini, q. menurut gue, masyarakat merasa bahwa bulan puasa adalah bulan yang spesial (emg iya sih, ramadhan itu spesial), makanya harus dirayakan. nah, cara mereka merayakannya yg menurut gue kurang tepat, yaitu dengan membeli berbagai makanan.

    apalagi ada tradisi lebaran di indonesia, yg merupakan puncak dari perayaan di bulan puasa. untuk menyambut lebaran itu, mereka juga harus membeli/memasak berbagai makanan. karena belinya berlebihan, permintaan jadi naik banget, makanya harga jd mahal.

    ya pokoknya intinya, menurut gue, justru di bulan puasa yg seharusnya org2 mampu mengendalikan diri, justru pada kebablasan..nggak bisa ngendaliin diri dlm hal makanan. hehe

    BalasHapus
  2. @dhay
    cukup setuju sama pendapat lo dhay,
    gw lebih menyoroti budaya makan saat Ramadhan, mungkin banyak poin yang berlebihan y, semoga hal kurang baik yang telah membudaya masih bisa dievaluasi,
    hhe.. :)

    BalasHapus
  3. foto joninya kocak gan :ngakak:
    udah budaya nih yang kaya gini, agak sulit dikendalikan, paling dari diri sendiri aja yang bisa ngontrol, dan kalo dah punya keluarga sendiri baru bisa mempraktekkan puasa yang gak berlebihan, IMHO

    BalasHapus
  4. @fajrie
    hha, iya emang kocak jrie :D
    iya, bisa kita mulai dari diri sendiri, dan setelah itu bisa dimulai dengan memengaruhi orang-orang dekat kita :D
    kalo udah punya keluarga sendiri juga oke tuh, hha :D asik fajrie :P :D

    BalasHapus
  5. cie yg mau pada nikah #eh
    Gw juga kan nanya sm emak knp klo puasa jd lbh boros. Katanya sih, yg biasanya jarang minum teh jd minum teh (which is beli gula mulu), makan jadi 2x sehari dg menu yg beda (biasanya kan masak cuma sekali ampe malem =="),susu jd cepet abis (klo sahur wajib minum biar kuat puasanya :D ), beli/bkn gorenagn tiap sore (minyak cpt abis).Y begitulah curhatan emak gw.hehehhe. Intinya sih sm aja ky komen diatas #gubrak

    BalasHapus
  6. @kiki
    berarti memang jadi lebih konsumtif ya ki..

    BalasHapus
  7. jd ingin segera berkeluarga :curcol: hahaha

    BalasHapus
  8. @dhay
    aheyy, gw juga dhay, tapi belum dalam waktu dekat, hhaha :P

    BalasHapus
  9. susah banget bacanya ky.. harus di blok dulu tulisanny..

    BalasHapus
  10. @aslih
    kayaknya lo liatnya background-nya belum di-load dengan baik deh ci, jadi susah dibaca, hhe :D

    BalasHapus
  11. setuju gan,

    menurut saya kita bisa lihat dari sisi lain bulan Ramadhan, di Bulan Ramadhan orang senang bersilaturahmi bersama kerabat, keluarga, temen kantor, temen kuliah, temen sekolah, temen pengajian dll, biasanya mereka melaksanakan buka puasa bersama di Restoran atau di rumah mereka. ini salah satu faktor yang sangat berpengaruh karena dilakukan oleh hampir seluruh orang.

    lalu, semangat bulan Ramadhan juga menjadikan orang berlomba-lomba untuk memberikan makanan berbuka puasa di Masjid-Masjid, kepada tetangga, Fakir Miskin dan lain-lainnya karena di Bulan ini segala kebaikan akan diganjar lebih dibandingkan bulan-bulan lainnya.

    dan yang terakhir memang namanya orang laper, pas mau buka ngeliat itu enak, ngeliat ini enak, akhirnya semuanya di beli deh. tapi menurutku yang terakhir ini pengaruhnya tidak terlalu besar dibandingkan yang di atas.

    BalasHapus
  12. apa sebab utama kenaikan ada adalah asumsi kita bahwa harga2 cenderung selalu naik kala ramadhan/lebaran, jadi semua orang jadi ingin nyetok barang? hehe

    BalasHapus
  13. @Azzam
    yang saya takutkan semangat konsumtifnya malah bertentangan dengan semangar Ramadhan, semoga tidak ya :)

    @Jarwadi
    yang saya lihat nyetok barang jika ada sepertinya tidak terlalu masif sehingga tidak terlalu ngaruh, yang saya lihat kenaikan harga disebabkan oleh adanya kenaikan dari sisi permintaan :)

    BalasHapus
  14. nice :) buatku setiap hari "sama". menjadi istimewa disaat bulan puasa boleh, tapi alangkah ayiknya kalau yg istimewa itu momentnya, kumpul2nya, bukan menunya. kalau semua orang denger si johnny mungkin harga gak akan naik pas bulan puasa, ya? hehehe...

    BalasHapus
  15. Huhehehe...analoginya masuk akal juga tuh :D
    Tapi kayaknya sih bukan masalah makanan 2 atau 3 kali, ini lebih soal ke hukum perdagangan #kriuk
    Tapi banyak juga sih pedagang nakal yang sengaja menimbun dagangannya....

    BalasHapus
  16. @zippy
    ya udah dijelaskan di postingan tentang konsep supply-demand-nya,
    iya, penimbunan juga berpengaruh dari sisi supply, tapi kayaknya sih memang ada pedagang yang menaikkan harganya barangnya di bulan Ramadhan karena ingin menambah margin keuntungan

    BalasHapus

Terima kasih atas apresiasinya :)
Klik beritahu saya untuk mendapatkan notifikasi komentar selanjutnya via email