Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Muslimah Amerika, the colors of them

16.51 Ecky A. 0 Comments Category :

بسم الله الرحمن الرحيم


Assalamu'alaikum wr wb...

Hari minggu, 30 September, saya membeli koran tempo yang edisi minggu, dan waah..saya senang sekali karena ada ada slip 20 halaman yang judul ruang baca –sepertinya itu adalah bonus-, yang berisi berbagai bahasan tentang sastra.

Membaca rubrik ulasan yang berrjudul “Warna-Warni Muslimah Amerika” tentang buku “Misteri Muslimah, Kehidupan Luar Biasa Muslimah Amerika”, Donna Gehrke-White, yang berjudul asli The Face Behind The Veil, memberi saya sedikit gambaran menarik mengenai kehidupan..umm..yang lebih spesifik kepada muslimah.

Diceritakan, Yuko David, perempuan berjilbab keturunan Jepang-Amerika, menemukan Islam dari sebuah majalah yang dia baca di ruang tunggu seorang dokter. KepadaDonna Gehrke-White (sang penulis), Yuko yang lahir dari pasangan Ibu Jepang dan ayah asal Lousiana, menuturkan : “Tentu ini bukan suatu kebetulan. Saya pikir, ini merupakan jawaban dari semua doa permohonan petunjuk yang saya lakukan.” Itulah salah satu hal yang diceritakan dalam buku Donna.

Hal menarik mengenai penulis yang dieritakan oleh tempo adalah, Donna, yang juga tergugah oleh peristiwa 11/9, bukan tidak melihat kekerasan dan kebencian Barat terhadap Islam yang sudah mengakar jauh sejak ratusan tahun lampau itu. Namun jurnalis yang mengantungi dua penghargaan Pulitzer ini lebih tertarik menggali lebih dalam “fakta tersembunyi” yang menyebutkan makin banyak warga Amerika yang masuk Islam justru setelah peristiwa 11/9 itu. “Ribuan wanita di AS mengganti agama asal dengan Islam. Sungguh, AS kini menjadi negara non-muslim yang memiliki warga muslim paling besar didunia,” tulis Donna. Jumlah mereka sekitar 5 juta jiwa.

Donna, yang membagi kelompok menjadi kelompok mualaf (the converts), tradisional baru (the new traditionalists), pembaur (the blenders), tertindas (the prescuted), dan kelompok pengubah (the changers).

Disebutkan Donna bahwa kelompok the converts adalah kelompok yang dia sebut paling bersemangat mengenakan busana muslimah – berkerudung, gaun panjang, dan mengenakan sarung tangan – meski banyak dicemooh bahkan dilecehkan oleh orang-orang sekitar mereka. Dan memang, di Barat ada anggapan bahwa memakai pakaian muslimah adalah bentuk diskriminasi Islam terhadap kaum wanita. (apanya yang diskriminatif coba?). Ada pandangan dari B’radon tentang ini dalam artikel dalam blognya, Renungan Sepanjang Jalan (Bag 2) The Beauty Within: Akhlak

Sebenarnya, kalau boleh jujur, hal pertama yang terpikir oleh saya saat melihat iklan tersebut di Mobile TV adalah justru hal yang lain: jilbab. Lho, kenapa jilbab? Iyalah, jilbablah yang sebenarnya mengampanyekan the real beauty, the beauty within: akhlak.

Saya kutip dari buku “101 Alasan Mengapa Saya Pakai Jilbab”, banyak sekali alasan yang pada intinya mengatakan kalau dengan jilbab, nggak perlu lagi khawatir masalah penampilan. Sehingga, lebih banyak waktu, energi, semangat untuk konsentrasi ke hal lain: ikut pengajian, memerhatikan akhlak, mengkaji Quran, membaca buku, belajar, ikut di organisasi positif, dan lainnya. Itu hanya sedikit dari sekian banyak hikmah. Meskipun kita nggak akan pernah tahu mengapa Allah mewajibkan jilbab.

Yuko adalah dua muslimah AS yang dimasukkan oleh Donna kedalam kelompok the converts.

Islam, seperti disebutkan Al Qur’an, adalah cahaya yang dipancarkan untuk siapa saja yang dikehendaki ALLAH , sesungguhnya bukan kebetulah ketika menyentuh nurani Yuko yang sebelumnya sama sekali tak mengenal Islam. Tapi, memang benar, perempuan yang semasa sekolah dulu menyukai The Beatles ini terguncang oleh aturanm gereja tempat dia dulu “beribadah” yang tidak mengizinkan lagi orang-orang kulit hitam mengikuti kebaktian. “ini tidak benar. Saya benar-benar tidak bisa menerimanya. Ini bukan aturan Tuhan, tapi aturan manusia,” tutur Yuko.

Dari kelompok tertindas, terungkap fakta yang memprihatinkan. Mereka, para muslimah, datang ke AS sebagai pengungsi dalam keadaan yang jauh lebih buruk dibandingkan penduduk AS yang paling miskin sekalipun...Mereka berasal dari 77 negara..antara lain Afghanistan, Irak, dan Sudan.

Problem-problem sosial yang terjadi,…mendorong para muslimah yang sudah mapan untuk mendirikan berbagai organisasisosial keagamaan; mengurusi nasib pengungsi, hak asasi manusia, pendidikan, bantuan hukum, kesetaraan gender, dan juga biro jodoh. Kelompok muslimah inilah yang sebagian termasuk The Changers (pengubah); berpendidikan tinggi, duduk di kursi karier yang menjajikan dan, terlebih lagi, berpenghasilan 75.000 dolar AS per tahun.

Dan ada quotes yang sangat menarik,

Ada catatan bernada optimistik yang ditulis donna:”Kenyataannya kaum muslimah cenderung lebih terdidik dibandingkan rata-rata wanita AS.” Wajah warna-warni mereka, pada saatnya kelak, bukan hanya akan mewarnai AS tapi juga dunia. “Tunggu saja dan lihat nanti,” kata mereka seperti dikutip Donna dalam epilog buku ini.

Karena yang saya bahas adalah sebuah resensi, agak sulit untuk menulisnya, jadi yah..saya terlihat seperti hanya menyalin,hhe..

So, FYI..warna merah adalah tulisan saya, hitam adalah tulisan dari koran tempo, dan hijau adalah tulisan dari B’Radon.





minalaidin walfaidzin..mohon maaf lahir dan batin..^.^..


*makasi buat mamahnya dea atas koreksinya..:)

===========================================================================

-EQ-

RELATED POSTS

0 comments

Terima kasih atas apresiasinya :)
Klik beritahu saya untuk mendapatkan notifikasi komentar selanjutnya via email