Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Ketika Cinta Bertasbih, a review

17.21 Ecky A. 1 Comments Category :

بسم الله الرحمن الرحيم


Assalamu'alaikum wr wb...


Melihat para blogger2, khususnya blog akhwat, yang sepertinya sedang tren yang isinya isinya loooveee melulu…hehe, (peace ukhti2 dmanapun anda berada…). Yah, akhirnya toh saya berpikir apa salahnya jika saya pun ngepost artikel tentang cinta tersebut. Tapi tetap dengan sedikit perbedaan, karena saya tak akan membahas masalah ini langsung, karena saya akan membahas sebuah novel bertitel “Ketika Cinta Bertasbih”…

Ketika Cinta Bertasbih (KCB), dalah novel karangan Habiburahman El Shirazy (biasa dikenal sebagai Kang Abik). Setelah terkesan dengan karya beliau sebelumnya, Ayat-Ayat Cinta (AAC) (a fenomenal masterpiece novel, novel of builder of soul..u must read this novel!), hehe, apakah saya terlalu berlebihan y? Langsung saja, setelah membaca, awalnya saya agak kecewa dengan KCB dengan tokohnya Abdullah Khairul Azzam yang menurut saya cukup jauh berbeda dengan pribadi (yang dekritik terlalu sempurna) tokoh utama AAC, Fahry. Ya, awalnya saya cukup kecewa kareana attitude c Azzam yang cukup –biasa-, tapi disisi lain saya bisa merasakan –kemanusiaan- dalam tingkah laku diri Azzam.

Cerita pun berlanjut, kritik saya selanjutnya adalah banyaknya bagian penceritaan pendeskripsian Mesir yang berbelit2, dan yang menurut saya juga menjadi kekurangan adalah banyaknya kata “yang entah kenapa”, untuk menjelaskan alasan terjadinya sesuatu, hal tersebut membuat say merasa membuat KCB jadi seperti novel “biasa”..dan juga ke-tiada-an tanda baca koma yang menurut saya sepertinya baik jika memakai koma dalam beberapa kalimat, karena suka terasa ambigu.

Tapi hal yang selalu menjadi bagian keren dari karya2 Kang Abik adalah, nama tokoh2nya yang keren…untuk KCB ini, saya sangat suka dengan nama sang tokoh akhwat Anna Athafunnisa (what a nice name…mendengarnya saja sudah terasa manis, hhehe..). Yah, tapi kelanjutan cerita menjadi lebih terasa dengan adanya konflik2 yang berkelanjutan, dan ada satu bagian yang menurut saya menarik,

“jadi diceritakan bahwa ada seorang akhwat (Tiara) yang memendam rasa kepada seorang ikhwan (Fadhil), dan ia mengharapkan jika sang ikhwan juga memendam rasa kepadanya, tapi ternyata sang akhwat dilamar oleh seorang ustadz (Zulkifli) yang tak lain adalah teman satu psantrennya sang ikhwan, karena bingung, sang akhwat meminta tolong kepada adik sang ikhwan (Cut Mala) untuk menceritakan tentang dirinya yang dilamar oleh ustadz tersebut, sebenarnya sang ikhwan juga memendam rasa kepada sang akhwat, tetapi ketika dia ditanya tentang permasalahan sang akhwat tersebut, sang ikhwan berusaha untuk menjawab dengan objektif, dan berkata “sulit dicari alas an untuk menolak lamaran orang sebaik Ustadz Zulkifli.

Setelah pulang dan sang akhwat mengetahui jawaban sang ikhwan, tak pelak sang akhwat pun mengangis, dan akhirnya adik sang ikhwan menelpon kembali kakanya untuk menceritakan bahw sebenarnya sang akhwat memendam rasa kepadanya, tetapi tiba2 muncul suatu hal yang sangat “ikhwan”, yaitu muncul rasa tinggi hati dalam dirinya untuk mengakui bahwa ia juga memendam rasa pada sang akhwat, dan sang ikhwanpun malah mekin menegaskna jawabannya….Kisah pun berlanjut (dikutip dari novelnya)…

“Sementara di mutsallats, Fadhil didera oleh rasa penyesalan mendalam atas sarannya kepada Tiara. Apalagi setelah tahu bahwa Tiara sebenarnya sangat mengharapkannya. Ia merasa sebenarnya ia bisa meralat perkataannya secepatnya. Namun rasa tinggi hatinyalah yang mencegahnya. Ia berteduh di bawah alas an seorang lelaki tidak akan mencabut apa yang telah dikatakannya…

“Tadi sore Cut Mala, adiknya, menelepon dirinya bahwa Tiara sudah menerima lamaran Zulkifli. Pernikahannya kan diselenggarakan setelah ujian….Ia bertanya pada dirinya sendiri, apakah ia mampu menghadapai hal itu. Batinnya pilu. Ya. Di dadanya, beribu-ribu gendrang kepiluan mengalun bertalu-talu….Beberapa kali ia mengutuk dirinya sendiri, betapa dungu akal pikirannya….namun rasa menyesal datang bagai badai yang membuatnya terpelanting tiada berdaya. Lebih dari itu, ia juga didera rasa berdosa, “pastilah Tiara merasakan sakit lebih dari yang aku rasa….Meninjukan tangannya ke tembok kamarnya. Ia merasa hatinya seakan mau pecah dan hancur. Ia lalu duduk perlahan, sejurus kemudian meneletangkan tubuhnnya diatas karpet. Airmatanya bercucuran…

Kenapa saya anggap bagian ini yg menarik, karena seperti yang saya lihat, airmata karena cinta begitu sering terjadi. Dibagian selanjutnya, Kang Abik begitu baik dalam membuat konflik yang membawa pembaca menjadi terbawa perasaan, dan untuk saya, menjadi berpihak kepada salah satu tokoh (saya sempat berpihak kepada Fadhil supaya berpasangan dengan Tiara, dan juga seperti dalam ayat-ayat cinta, sebenarnya saya lebih mendukung kalau Fahry berpasangan dengan Nurul …), konflik diceritakan dengan sangat baik, tetapi saya sedikit kecewa karena KCB bersambung ke jilid berikutnya, mungkin dikarenakan kareana cakupan ceritanya yang cukup luas.

Overall, Novel ini sangat bagus Sip, mantap!, dan untuk penokohan menurut saya, kita tak bisa membandingkan sang tokoh utama Khairul Azzam dengan Fahry karena memang latar belakang permasalahannya berbeda, dan mungkin diawal2 novel, KCB belum memberikan –feel-..tapi jika dibaca lebih lanjut, sangat khas novel Kang Abik. Good novel from good author…

-EQ-

17 Juni 2007

Footnote : sebenarnya saya cukup geli ketika membaca istilah yang sebenarnya juga sudah dipakai dalam Pudarnya Pesona Cleopatra yang juga merupakan karya Kang Abik, yaitu “jika ada dua orang wanita Mesir, maka yang cantik ada empat, kenapa?karena bayangannya juga cantik… ” (dalam Pudarnya Pesona Cleopatra, memakai jumlah 10 orang dan 20 yang cantik)

RELATED POSTS

1 comments

  1. wah...belum baca KCB bagian 2 ya mas??

    sayang sekali...makin bagus lho jalan ceritanya...

    banyak adegan-adegan yang...pokoknya SURPRISING!!






    Contohnya waktu azzam baru pulang dari mesir kekampungnya setelah menginap sehari dijakarta untuk suatu urusan... dia ditemani adiknya Husna, dan juga Eliana.... Sesampainya dirumahnya...tak lama kemudian Anna Althafunissa datang(sebelumnya Anna sudah kenal duluan dengan Husna di suatu acara)



    Kebetulan yang sangat....WAAHHH!!!


    saya sampai merinding dan tersenyum puas membacanya....


    akhirnya Anna bisa bertemu kembali dengan pahlawan yang sangat diidamkannya...

    akhirnya Azzam juga bisa berkenalan langsung dengan wanita yang 'pernah' dilamarnya... dan dia juga baru tahu kalau ternyata wanita yang pernah ditolongnya itu adalh Anna...








    Saat saya menulis comment ini, saya juga sementara baca novelnya...baru sampai halaman 268 dari 513 halaman...


    jadi semakin penasaran...hehehe

    BalasHapus

Terima kasih atas apresiasinya :)
Klik beritahu saya untuk mendapatkan notifikasi komentar selanjutnya via email