Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

renungan, indahnya berbagi...

21.37 Ecky A. 0 Comments Category :


Seekor kumbang tampak menatapi tingkah seekor lebah yang terbang tak jauh dari hadapannya. Sang lebah begitu ceria. Sesekali, lebah menggoyangkan badannya seperti sedang berdendang riang. kumbang pun mengubah wajah cemberutnya dengan bersuara ke arah lebah.

"Kamu begitu bahagia, lebah?" tanya sang kumbang menampakkan wajah penasaran. Padahal, di masa kering seperti ini, sebagian besar penghuni padang rumput terjebak kehidupan yang begitu sulit.

"Ya, aku bahagia!" ucap lebah sambil terus berlari kecil seraya tetap mengungkapkan keceriaannya.

"Kamu tidak merasa susah di masa kering seperti ini?" tanya kumbang dengan wajah masih muram.

"Tidak!" jawab lebah singkat. Gerakkan terbangnya semakin melambat. Dan, sang lebah pun hinggap di sebuah bunga yang masih mekar diantara yang sudah layu, di depan sang kumbang.

"Apa kamu sudah kaya, temanku?" tanya si kumbang serius. Yang ditanya tidak memberikan reaksi istimewa. lebah cuma menjawab pelan, "Tidak!"

"Mungkin kamu sudah punya rumah baru seperti kura-kura, keong, atau yang lainnya?" tanya kumbang tetap menunjukkan rasa penasaran. lebah hanya menggeleng.

"Mungkin kamu sudah bisa menghasilkan mutiara seperti para kerang di laut?" tanya sang kumbang lagi. Lagi-lagi, lebah menggeleng. "Lalu? Kenapa kamu begitu bahagia?" sergah kumbang lebih serius.

"Entahlah," jawab lebah sambil tetap menunjukkan wajah cerianya. "Aku bahagia bukan karena punya apa-apa. Aku bahagia karena bisa memberi apa yang kupunya: madu, kecerdasan, bahkan keceriaan, dan aku bahagia dengan kebersamaanku bersama koloniku" penjelasan lebah begitu panjang.

"Itukah yang membuatmu bahagia dibanding aku?" tanya kumbang mulai menemukan jawaban menarik.

"Aku merasa bahagia dan kaya karena selalu berpikir apa yang bisa kuberikan. Dan bukan, apa yang bisa kudapatkan," tambah si lebah yang mulai beranjak untuk kembali terbang.


*******


Manis pahit kehidupan kadang bergantung pada bagaimana kita memandang. Dari situlah sikap diri akan menemukan cermin. Kalau hidup dipandang dengan wajah muram, maka cermin akan memantulkan sikap susah, suram, dan tidak mengenakkan.

Cobalah letakkan mata hati kita di tempat yang nyaman untuk memandang hidup ini secara positif. Maka, kita akan menemukan energi baru tentang bagaimana mengarungi hidup.

Dari situlah, sikap yang muncul persis seperti diungkapkan sang kuda, "Aku merasa bahagia karena selalu berpikir apa yang bisa kuberikan. Bukan, apa yang bisa kudapatkan."

orang-orang yang hebat adalah mereka yang kaya akan menutupi kesusahan mereka dan menyulapnya menjadi kebahagiaan yang bisa dirasakan bersama...


------------------------------------------------------------------------------------------------


sumber

main idea Majalah Saksi, Muhammad Nur






RELATED POSTS

0 comments

Terima kasih atas apresiasinya :)
Klik beritahu saya untuk mendapatkan notifikasi komentar selanjutnya via email